JAKARTA (21/2/2012) – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI rupanya semakin serius menggarap pasar gula kristal putih (GKP) kelas premium. Tahun ini, perusahaan pelat merah ini berencana untuk menaikan produksi gula jenis Gulapas (gula pasir sebelas ) hingga 40%. Adig Suwandi, Kepala Bidang Pemasaran atau General Manager Marketing PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI mengungkapkan, produksi Gupalas tersebut diharapkan bisa mencapai 7.000 ton dari realisasi produksi tahun lalu sebesar 5.000 ton. Kenaikan produksi karena respon pasar yang baik. Produksi Gupalas tersebut relatif lebih kecil dari total produksi gula dari PTPN XI yang dipoerkirakan mencapai 450.000 ton, namun setidaknya menjadi rintisan untuk membidik retail modern dengan segmen menengah ke atas.
Perlu diketahui, Gupalas ini merupakan gula jenis premium yang diproduksi dengan cara berbeda dari gula biasanya. Proses pemurnian nira tebu untuk Gulapas dilakukan semi rafinasi, melalui karbonasi. Berbeda dengan produksi gula pada umumnya, Gupalas dikemas dalam bentuk kemasan khusus berukuran 1 kilogram (kg). Harga gula Gupalas memang sedikit lebih mahal dibandingkan gula biasa, jika harga rata-rata gula biasa Rp 9.000 per kg-Rp 9.500 per kg, maka Gupalas dibanderol lebih mahal sebesar Rp 10.875 per kg.
Menurutnya, produksi Gupalas ini untuk melayani segmen pasar kelas menengah. Selain mendapatkan kode MD dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Gupalas juga telah memperoleh sertifikat Halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ini satu-satunya gula kristal putih (GKP) yang memperoleh sertifikat halal MU. Menyongsong produksi gula di 2012, PTPN XI bakal meningkatkan produktivitas dan rendemen tebu. Sesuai RKAP (Rencana Kerja dam Anggaran Perusahaan) PTPN XI menargetkan sasaran produktivitas tebu rata-rata 81,9 ton dan rendemen mencapai 7,95 persen.
Direktur Tanaman PTPN XI, Slamet Poerwadi, beberapa waktu lalu menyebutkan, untuk mencapai produktivitas dan rendemen itu, pihaknya akan melakukan berbagai cara, seperti menggunakan pupuk ekstra untuk meningkatkan produktivitas dalam sisa waktu tersisa sebelum pelaksanaan giling 2012. Secara khusus, untuk pemupukan ekstra itu kini telah diinventarisasikan dan dilakukan segera di tiap pabrik gula (PG). Ia pun berharap, pelaksanaan pupuk ekstra juga dapat dilakukan pada areal tebu rakyat. Sebagai pembina teknis, PG memberikan rekomendasi dan membantu petani dalam mengaplikasikannya. Selain pupuk esktra, juga pra-kondisi tebang angkut yang memungkinkan keberhasilan teknologi pascapanen juga akan menjadi salah satu penekanan di 2012.
SUMBER : antara lain dari surabayapost.co.id (21/2/2012)