SEKILAS TENTANG PG PRADJEKAN

Pabrik Gula “Pradjekan” didirikan pada tahun 1883 oleh perusahaan Belanda “NV Cultuur Mioj Pradjekan Tanggerang yang merupakan investasi dari “JW yang merupakan investasi dari “JW Bernie Anment & CoSurabaya. Saat didirikan mempunyai luas area sekitar 950 Ha kapasitas giling 650 Ton/Hari. Sejak tahun 1909 sampai dengan tahun 1957 PD “Pradjekandiambil alih oleh “Cultuur Handel on Industrie Bank yang brkedudukan di Surabaya. Pada jaman pendudukan Jepang terpaksa menghentikan produksinya sampai pecahnya perang revolusi.

Pada tgl. 10 November 1957 PG. “Pradjekan diambil alih oleh Pemerintah RI sebagai realisasi Nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia. Pengelolaannya diserahkan pada Pusat Perkebunan Negara Baru (PPN Baru). Dalam rangka pengambil alihan tersebut Pemerintah mengeluarkan UU Nasionalisasi (UU No. 26/1959) pada tahun 1959 dan menetapkan PG. “Pradjekan dibawah PPN Unit Jatim Rayon VIII.

Pada tahun 1960 diadakan reorganisasi dalam tubuh PPN Baru yaitu dengan dibentuknya Pra Unit  Pra Unit yang kemudian menjadi Unit-Unit Rayon. PG. “Pradjekan termasuk dalam Pra Unit Rayon Gula A. Untuk mengukuhkan Unit-Unit tersebut menjadi Badan Hukum maka dikeluarkan PP No. 141-175 tahun 1961, sehingga unit-unit diubah menjadi PPN Kesatuan, dan PG. “Padjarekan termasuk dalam PPN Kesatuan dan PG. “Pradjarekan termasuk dalam PPN Kesatuan Jawa Timur IV. Pada tahun 1963 spesialisasi sehingga PPn Kesatuan menjadi PPN Gula, PPN Tembakau, PPN Karet, PPN Aneka Tanaman dan sebagainya.

Pada tanggal 27 Maret 1968 diadakan reorganisasi. Sesuai dengan PP No. 13 dan 14 tanggal 13 April 1968 tentang Pembentukan PPN Gula, PG. “Pradjekan tergabung dalam PNP XXV dengan kantor induk di JL. Jembatan Merah 3-5 Surabaya. Pada tahun 1975 dengan PP No. 15/1975 PNP XXV mulai berstatus sebagai Perseroan Terbatas dan bergabung dengan PNP XXIV menjadi PTP.XXIV – XXV yang berkantor induk di JL. Merak 1 Surabaya. Akte pendirian perusahaan dibuat pada tanggal 30 Juni 1975 dihadapan Notaris GHS Loemban Tobing SH.

Pada tanggal 13 September 1994 berubah menjadi PTP Jatim yang berkedudukan di JL. Merak 1 Surabaya yang merupakan gabungan dari PTP XX, PTP XXIII, PTP XXIV  XXV, PTP XXVI dan PTP XXIX. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 16 tanggal 14 Pebruari 1996 dan Lembaran Negara No. 22 tahun 1996 tentang peleburan perusahaan perseroan maka PT. Perkebunan XX dan PT. Perkebunan XXIV – XXV menjadi PT. Perkebunan Nusantara XI (Perseroan) yang berkedudukan di JL. Merak 1 Surabaya.

Agroekosistem yang relatif sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman tebu memungkinkan fotosintesis berlangsung secara optimal. Tidak mengherankan bila semua persyaratan agronomis dipenuhi, rendemen tinggi bagi PG Pradjekan merupakan kenyataan.  Dukungan peralatan pabrik yang sangat menunjang kelancaran giling, efisiensi, dan mutu produk menjadi daya tarik yang tidak kalah menariknya sehingga membuat para petani semakin yakin bahwa tebu merupakan komoditas alternatif sangat menguntungkan yang berkemampuan meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Pada tahun 2011, PG Pradjekan merencanakan giling tebu sebanyak 403.110,1 ton (tebu sendiri 40.552,0 ton dan tebu rakyat 362.558,1 ton) yang diperoleh dari areal seluas 5.747,1 ha (TS 550,0 ha dan TR 5.197,1 ha). Gula dihasilkan diproyeksikan mencapai 27.797,6 ton (milik PG 11.414,3 ton dan milik petani 16.383,3 ton) dan tetes 18.140,0 ton. Kapasitas giling 2.900,0  tth (tidak termasuk jam berhenti) atau 2.500,0  tth sudah termasuk jam berhenti.

Pengembangan areal terus dilakukan, baik TS maupun TR, seirama kapabilitas PG untuk menggiling tebu lebih banyak.  Sasaran utama adalah daerah sawah berpengairan teknis yang secara agronomis juga digunakan untuk budidaya padi dan palawija.PG Pradjekan  yakin melalui penerapan agroekoteknologi, kecukupan agroinputs, penataan masa tanam, dan perbaikan manajemen tebang-angkut, produktvitas yang meningkat akan menjadi daya tarik bagi petani untuk menjadikan tebu sebagai komoditas alternatif. Selain itu, pengembangan juga dilakukan ke lahan kering sepanjang air dapat dipompa secara artesis.

Sadar akan pentingnya tebu rakyat dalam pemenuhan kebutuhan bakan baku dan pengembangan PG lebih lanjut, pelayanan prima kepada petani teru diupayakan dengan sebaik-baiknya. Secara periodik, PG menyelenggarakan Forum Temu Kemitraan (FTK) guna membahas berbagai persoalan yang dihadapi petani, baik di luar maupun dalam masa giling.  Dalam upaya peningkatan produktivitas, PG Pradjekan antara lain melakukan optimalisasi masa tanaman dan  penataan varietas menuju komposisi ideal dengan proporsi antara masak awal, tengah dan akhir dengan sasaran 2010/11 berbanding 30-40-30.  Melalui kebun semacam ini, petani diharapkan dapat belajar lebih banyak tentang pengelolaan kebun melalui best agricultural practices.

 

 

 

PROFIL ADMINISTRATUR

Sejak April 2009, Administratur PG Pradjekan dijabat oleh M. Susilo Hariadi. Pria kelahiran Situbondo tahun 1959 ini menyelesaikan pendidikan Sarjana Muda Bidang Keahlian Teknologi Gula dari Lembaga Pendidikan Perkebunan dan S-1 Pertanian.  Pendidikan tambahan antara lain Kursus Manajemen Perkebunan dari Lembaga Pendidikan Perkebunan serta berbagai pelatihan bidang manajemen dan teknologi gula.

Mengawali karier sebagai Chemiker di lingkungan PTPN XXIV-XXV, dalam perjalananya Susilo antara lain pernah menjabat Kepala Bagian Pabrikasi (berturut di PG Pandjie dan PG Djatiroto) dan Staf Bidang Pengolahan PTPN XI.Jabatan manajerial yang pernah dipegang adalah Administratur PG Wringinaniom, Kepala Pabrik Karung Rosella Baru, dan Kepala Bidang PPU.

Leave a reply

required