SERIAL MANUFACTURING HOPE (14)
Oleh Dahlan Iskan, Menteri Negara BUMN (Jawa Pos, 21/2/2012)
SUDAHKAH rapat-rapat di Kementerian BUMN turun 50 persen seperti yang saya inginkan? Angka pastinya masih dikumpulkan, tapi para direktur utama BUMN menjelaskan bahwa jumlah rapat itu memang menurun drastis. “Rasanya turun 60%,” ujar Nur Pamudji, Dirut Perusahaan Listrik Negara. Sementara Dirut Pertamina Karen Agustiawan mengaku, “Selama tiga bulan ini saya baru rapat dua kali di kementerian. Kira-kira menurun 75%.” Rapat harus dikurangi, kerjalah yang harus ditambah. Kerja, kerja, dan kerja. Di birokrasi, sibuk karena rapat memang luar biasa. Jadi, salahlah anggapan masyarakat selama ini birokrasi malas. Birokrasi itu rajinnya bukan main. Kalau sudah rapat bisa panjang sekali, bahkan untuk membahas satu topik saja sampai berkali-kali dilakukan.
Tentu ada dampak negatifnya. Penghasilan sejumlah staf menurun. Dampak lainnya, banyak ruang rapat yang kosong. Saya suka turun naik lantai. Terasa benar penggunaan ruang yang mahal itu terlalu boros. Padahal ruang rapat itu banyak yang berukuran besar. Beberapa staf pada Kementerian BUMN lalu mengusulkan agar seluruh ruang kerja ditata ulang. Tentu saya menghargai usul ini dan harus segera dilaksanakan. Di zaman yang serba ada ini, orang sudah begitu melupakan pepatah ‘hemat pangkal kaya’. Pepatah itu berganti menjadi adagium, “boros itu meningkatkan pertumbuhan ekonomi! Kalau semua orang berhemat, siapa yang belanja? Bagaimana nasib pabrik-pabrik?”
Boros ruangan itu kurang baik. Secara kasar, bisa dihitung paling sedikit akan ada dua lantai dari gedung 22 lantai di dekat Monas itu yang bisa dihemat. Beberapa BUMN yang selama ini masih menyewa kantor –ada satu BUMN yang untuk salah satu bagiannya harus menyewa ruang kantor Rp50 miliar selama lima tahun!– bisa pindah ke gedung ini. Apakah menurunnya jumlah rapat di Kementerian BUMN telah otomotis membuktikan BUMN-BUMN kini lebih banyak kerja, kerja, kerja? Tentu tidak seketika begitu. Bukti terbaik adalah hasil tutup buku akhir tahun nanti. Benarkah kinerja BUMN meningkat? Ataukah berkurangnya panggilan rapat dari kementerian itu justru melonggarkan kontrol dan membuat BUMN kian malas?
Berkurangnya jumlah rapat secara drastis di Kementerian BUMN itu sebenarnya bukan berarti menurunnya intensitas komunikasi. Sejumlah rapat kini sudah digantikan oleh terbentuknya grup BlackBerry Massanger. Misalnya ada satu grup BBM yang semua anggotanya eselon satu. Maka, meski Rapim Kementerian BUMN hanya dilakukan seminggu sekali (setiap Selasa jam 07.00), pada dasarnya rapat itu berlangsung bisa beberapa kali sehari. Hanya, forumnya tidak di ruang rapat dengan sebuah meja rapat, tapi di forum BBM. Peserta bisa di mana saja dan sedang melakukan apa saja. Yang jelas, tidak ada hidangan makanan kecil dalam rapat seperti ini. Ada juga grup BBM yang anggotanya menteri, wakil menteri, seorang deputi, dan semua direktur utama BUMN yang bergerak di bidang pangan. Masalah-masalah peningkatan produksi beras di BUMN dibicarakan di “ruang rapat tanpa hidangan” ini.
Demikian juga ada grup BBM bidang gula. Anggotanya menteri, wakil menteri, deputi bersangkutan, dan semua direktur utama yang membawahi urusan gula. Ada grup BBM energi. Dan sebentar lagi, setelah holding perkebunan terbentuk akan diadakan grup BBM perkebunan. Rapat melalui grup BBM seperti itu intensifnya bukan main, juga hemat waktu, tidak mengenal hari dan jam. Bisa saja hari Minggu ada “rapat” membahas topik tertentu. Bahkan ada yang sampai pukul 23.00 masih mengajukan pendapat. Isi dan kualitas pembicaraan tidak kalah dengan rapat yang dilaksanakan di ruang rapat sungguhan. Meski menggunakan BBM, jangan khawatir dimanfaatkan untuk yang bukan-bukan. Tidak akan ada pembicaraan mengenai Apel Malang atau Apel Washington di situ.
Sesekali ada yang memasukkan humor, tapi biasanya kalau lagi akhir pekan. Arifin Tasrif, Dirut Pusri Holding dari grup BBM pangan, termasuk yang suka mengirim humor. Hanya kadang saya sulit mengenali nama asli mereka karena banyak yang memakai nama maya seperti Arifin Tasrif yang menggunakan nama Kapal Selam. Rupanya dia sekalian jualan pempek Palembang. Tentu, saya sangat menganjurkan agar semua BUMN membentuk grup-grup BBM seperti itu. Intensifnya luar biasa. Ini saya rasakan sewaktu masih di PLN. Waktu itu saya memiliki tujuh grup, yaitu grup yang anggotanya khusus direksi plus sekretaris perusahaan, grup saya dengan para general manajer se-Jawa-Bali, grup saya dengan para general manajer se-Indonesia barat, grup saya dengan semua general manajer se-Indonesia Timur, grup saya dengan para manajer perencanaan, grup saya dengan para manajer keuangan, grup saya dengan para manajer SDM, dan seterusnya.
Keluhan masyarakat, info soal korupsi, pengaduan tender yang main-main dan segala persoalan yang berkembang bisa langsung dikomunikasikan melalui grup BBM. Model komunikasi manajemen seperti ini bisa menerabas batas-batas hirarkhi dan birokrasi, serta lebih terbuka. Kekurangan di satu tempat langsung diketahui siapa pun di tempat lain. Kalau tidak terbiasa memang seperti membuka aib dan kelemahan, tapi itulah cara efektif untuk melakukan perbaikan. Kalau niatnya melayani masyarakat, soal kelemahan yang dibuka di depan sesama manajer tak akan terasa aib lagi. Justru dengan cara itu tanggungjawab muncul, apalagi bukan hanya soal kekurangan yang dibeber di grup BBM, tapi juga soal prestasi.
Dulu sering saya memasukkan pujian dari pelanggan listrik yang dikirimkan via SMS ke handphone saya. SMS itu langsung saya masukkan ke grup BBM sebagai pendorong bahwa hasil kerja keras mereka diapresiasi masyarakat luas. Salah satu contoh ketika Peter Gontha memuji PLN via SMS yang kaget mendapati petugas PLN begitu cepat datang ke rumahnya yang listriknya lagi bermasalah dan petugas itu tidak mau diberi uang tip. SMS itu saya masukkan ke grup BBM dan dalam waktu singkat menyebar luas ke jajaran PLN. Sungguh banyak rapat yang sebenarnya bisa diselesaikan tanpa membuang waktu sampai lima jam (satu jam perjalanan, tiga jam rapat, satu jam perjalanan kembali), kecuali rapat itu benar-benar harus dilakukan dan bisa mengambil keputusan saat itu juga.
Tentang rapat pimpinan Kementerian BUMN sendiri, kini tidak lagi dilakukan di kantor kementerian BUMN. Tiap Selasa, lokasi rapat berpindah dari BUMN satu ke BUMN lain. Sekaligus agar seluruh eselon satu Kementerian BUMN mengetahui dengan mata kepala sendiri markas BUMN yang selama ini sering mereka panggil. Sekalian untuk mencek apakah di BUMN itu ada rapat pimpinan setiap Selasa jam 07.00. Rapat paling jauh dilakukan di BUMN Angkasa Pura II Selasa lalu, sekalian untuk mencek persiapan perbaikan Bandara Soekarno-Hatta. Perubahan sedang dilakukan. Ruang ATC/Tower sudah lebih disiplin dan bersih. Tidak ada lagi orang yang merokok di ruang kontrol lalu lintas pesawat. Peningkatan kapasitas tower menjadi dua sisi juga sudah hampir selesai. Satu sodetan express taxy sudah selesai, tinggal membuat satu lagi. Bagian-bagian jalan yang sempit yang menjadi sumber kemacetan di sekitar bandara sudah dipagari seng, pertanda proyek pelebaran jalan sedang dilakukan.
Yang tahun ini mulai dikerjakan adalah pembuatan gedung parkir empat tingkat di antara Terminal 1 dan 2. Di sini pula tahun ini mulai dibangun stasiun kereta api. Keduanya harus selesai akhir tahun depan. Sementara menunggu gedung parkir, pengaturan darurat segera dilakukan. Mobil-mobil yang menginap di bandara akan disediakan lokasi khusus, sementara kendaraan karyawan bandara dan toko-toko di bandara akan dialihkan ke lokasi lain agar lokasi parkir bandara lebih diperuntukkan melayani penumpang. Terminal 3 yang sekarang seperti huruf I akan dikerjakan menjadi huruf U lebar, berikut apronnya sekalian. Dari Terminal 3 ke Terminal 1 dan 2 akan dihubungkan oleh kereta tanpa sopir. Pembangunan Terminal 3 ini harus sudah selesai akhir tahun depan.
Kalau semua pekerjaaan selesai, maka daya tamping bandara Soekarno Hatta meningkat menjadi 60 juta penumpang. Sekarang ini sudah 50 juta penumpang per tahun memadati bandara yang mestinya hanya untuk 22 juta penumpang itu. Memang masih ada proyek besar lainnya: membangun landasan nomor 3 dan membangun Terminal 4. Tapi proyek ini memerlukan waktu lebih lama dengan masih harus membebaskan tanah 730 ha yang tentu tidak mudah. Dengan mengurangi rapat-rapat yang kurang efektif, pemikiran bisa lebih dicurahkan untuk hal-hal yang lebih mendasar. Rapat, tentu saja penting. Tapi kebanyakan rapat bisa membuat orang sinting!