Impor Raw Sugar Disambut Positip

JAKARTA  (17/2/2012) – Rencana impor 240.000 ton gula mentah atau raw sugar untuk diolah pada Pabrik Gula (PG), disambut positif kalangan produsen. Selain untuk optimalisasi kapasitas PG, pengolahan gula mentah tersebut dapat sekaligus memperkuat stok gula nasional.

Adig Suwandi, Kepala Bidang Pemasaran PT Perkebunan Nusantara  XI (Persero) sekaligus Ketua Kompartemen Manajemen Ikatan Ahli Gula Indinesia (IKAGI), menyebut, meskipun pelaksanaan impor dan pengolahan gula mentah dilakukan beriringan dengan masa giling tebu petani, hal tersebut tidak akan mempengaruhi kinerja produksi gula dalam negeri.  “Sangat bagus bagi PG mengingat pada 4 periode awal giling (2 bulan) umumnya   sulit diperoleh tebu masak,” ujar Adig, kemarin. Masih belum maksimalnya produksi tebu tersebut akibat belum selesainya program penataan varietas yang tengah dilakukan. Komposisi varietas atau perbandingan antara masak awal, tengah, dan akhir idealnya 30-40-30%.

Namun demikian, dalam pelaksanaan impor raw sugar harus ada koordinasi dengan pemerintah provinsi (pemrov) setempat, seperti Jatim yang sangat berhati-hati dalam menerima kedatangan produk impor.  Tanpa koordinasi dengan pemprov, akan sangat sulit gula mentah dibongkar di pelabuhan, sehingga bila terjadi beda pendapat potensial menimbulkan persoalan baru. Kondisi tersebut harus dimengerti mengingat Jatim merupakan kawasan penghasil gula dengan kontribusi 1,2 juta-1,4 juta ton, sedangkan kebutuhan sekitar 480.000-550.000 ton. Harus ada penjelasan rasional dan dapat diterima bahwa hasil pengolahan raw sugar dan surplus gula Jatim untuk kepentingan nasional yang lebih luas.

Harga gula mentah untuk pengapalan Mei 2012 yang tercatat di Birsa Berjangka New York dewasa ini berkisar  24,10 cent-24,90 cent per pound FOB (harga di negara asal, belum termasuk biaya pengapalan dan premium).  Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, importir masih harus membayar bea masuk Rp 550 per kg. Terkait dengan gula mentah tersebut, pemerintah juga harus menjamin bahwa gula rafinasi berbahan baku raw sugar tidak akan masuk pasar eceran. Kalau dibiarkan masuk, akan terjadi persaingan tidak sehat apalagi dalam mengimpor industri gula rafinasi mendapatkan fasilitas keringanan dan pembebasan bea masuk.  Iklim persaingan yang tidak fair harus diakhiri sehingga kebijakan pemisahan gula rafinasi (hanya untuk industri makanan dan minuman) dan gula lokal berbahan baku tebu hanya untuk konsumsi menjadi sangat urgen.

Leave a Reply

*

Latest Article

KUNJUNGAN KERJA JAJARAN DIREKSI BARU PTPN XI

Mengawali kinerjanya, jajaran Direksi PTPN XI periode 2012-2017 melakukan kunjungan kerja ke PG. Jat[...]

Dahlan Iskan Tolak Cindera Mata

JAKARTA (18/04/2012) – Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan kembali memberikan contoh bagi pejabat[...]

3 Keputusan Meneg BUMN Baru

JAKARTA (18/04/2012) – Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan mengeluarkan tiga keputusan menteri. K[...]

Membaca Harga Gula

SURABAYA (18/4/2012) – Harga  gula di pasar dunia cenderung terus turun sejak hampir setahun [...]

Pengumuman

Iwak Peyek pun tidak menolong tebu dari serangan uret

SERIAL  MANUFACTURING  HOPE (26) Dahlan Iskan – Menteri Negara BUMN (Jawa Pos, 14/05/2012) Saya tertegun ketika berkunjung ke Pabrik Gula Madukism[...]

Hari-hari “hamil tua” di PG

SERIAL  MANUFACTURING  HOPE (25) Dahlan Iskan – Menteri Negara BUMN (Jawa Pos, 07/05/2012) Hari-hari ini situasi pabrik gula kita seperti menghada[...]

Kegiatan PTPN XI

15/05 : Harga Gula Dunia USD 565,10

SURABAYA  (16/05/2012) –  Harga gula dunia kembali menggeliat, harga gula kristal putih (plantation white sugar) yang tercatat di Bursa Berjangka [...]

14/05 : Harga Gula Dunia USD 557,10

SURABAYA  (15/05/2012) –  Harga gula dunia kembali menggeliat, harga gula kristal putih (plantation white sugar) yang tercatat di Bursa Berjangka [...]

PTPN-XI Online and its related marks are trademark of PTPN XI Copyright 2009
songoo.com all right reserved