JAKARTA (Bisnis.com): Komisi IV DPR meminta Kementerian Perindustrian mendata perusahaan pengguna gula rafinasi serta memberi instruksi kepada produsen gula industri tersebut agar menjual langsung ke produsen makanan dan minuman. Anggota Komisi IV DPR Abdul Wachid mengatakan produsen rafinasi agar tidak menjual ke depo gula sehingga pendistribusianya tidak langsung ke depo, tetapi langsung ke pabrikan.

“Kami sampaikan ini yang menjadi penyebab bocornya gula rafinasi ke pasar disebabkan depo-depo yang membocorkan. Sekarang gula petani mulai tiap 15 hari dilelang dan harga terus turun dari Rp8.000 per kg sekarang sudah kurang dari Rp8.000 per kg, tepatnya Rp7.800 per kg. Kemungkinan akan turun lagi,” ujarnya kepada bisnis, hari ini.  Dia berpendapat salah satu penyebab penurunan harga gula lelang itu, karena banyak gula rafinasi di daerah. “Saya khawatir akan turun terus.”

Menurut Wachid, jika pemerintah tidak dapat menyelesaikan, dikhawatirkan akan terjadi konflik horizontal. “Kalau ini terjadi penyebabnya salah satunya dari beredarnya gula rafinasi.”  Saat ini, kata dia, pedagang gula skala besar enggan memberi dana talangan kepada gula petani. Pedagang gula, lanjutnya, lebih memilih gula rafinasi.  Keengganan memberi dana talangan tersebut, kata dia, karena takut harga gula di bawah ketentuan pemerintah Rp6.350 per kg.

Wachid menuturkan gula rafinasi PT Makasar Tekne masuk ke Surabaya sebanyak 1.000 kontainer. Gula rafinasi dari PT Sugar Labinta, kata dia, masuk ke Jakarta.  Dia menyarankan agar penjualan gula rafiansi tidak melalui depo pedagang gula, tetapi langsung kepada produsen makanan dan minuman.   Selain itu, bagi produsen yang tidak memiliki pelanggan pabrikan makanan dan minuman, lanjutnya, agar tidak diberikan izin impor gula kasar (raw sugar).

(msw)

Oleh: Sepudin Zuhri

SUMBER : bisnis.co.id (14/6/2010)

Posted in: Artikel.
Last Modified: June 15, 2010

Leave a reply

required