Idealnya Perusahaan Miliki Divisi Manajemen Risiko

SURABAYA (31/08/2015) Bisnis Indonesia Learning Centre (Bilec) menyelenggarakan pelatihan manajemen resiko bagi lembaga jasa keuangan nonbank.

Kegiatan itu dilaksanakan di Wisma Bisnis Indonesia, 20-21 Agustus 2015.

President Director PT Mitra Finanz Wicaksana, Sulad Sri Hardanto yang menjadi pemateri dalam pelatihan ini mengatakan setiap bisnis pasti memiliki risiko, yang membedakan hanya tingkat risikonya sesuai tipe bisnisnya.

Untuk itu, hendaknya setiap perusahaan memiliki divisi yang khusus menangani manajemen risiko untuk menyusun analisis dan strategi menghadapi risiko tersebut,” katanya Kamis (20/8).

read more

Empulur Ampas Tebu Sebagai Penyerap Pakan Ternak

SURABAYA (10/08/2015) Limbah perkebunan tebu dan industri olahannya terdiri dari pucuk tebu, ampas tebu, blotong, dan tetes. Hasil samping yang dapat langsung dimanfaatkan sebagai pakan ternak yaitu pucuk tebu dan tetes, sedangkan yang harus melalui proses pengolahan yaitu ampas tebu, dan bahkan ada yang dimanfaatkan setelah diolah menjadi bahan lain seperti ragi pakan ternak dan lysine dari tetes.

The waste of sugar cane plantations and its industries consists of sugarcane shoots, bagasse, and molasses. The byproducts that can be directly used as cattle feed are sugarcane shoots and molasses, while the ones that need further process are bagasse, yeast and lysine fodder.

read more

Menjaga Gula Tidak Hilang di Kebun

SURABAYA (04/08/2015) Kamis, 23 Juli 2015. Hari masih pagi. Waktu baru menunjukkan pukul 07.00 WIB. Namun, kesibukan mulai tampak di perkebunan tebu di Desa Prampelan, Kecamatan Karang Rejo, Magetan Jawa Timur. Puluhan penebang, kuli angkut dan supir truk berada di tengah-tengah area kebun tebu, mengerjakan pekerjaan masing-masing.

“Sekarang baru tebang lagi,” kata seorang penebang tebu. Di sampingnya, kuli pengangkut menata tebu untuk diikat dan kemudian diangkut ke dalam truk yang telah menunggu di tengah-tengah kebun. Hari itu merupakan hari pertama aktivitas penebangan tebu setelah sempat terhenti sepekan karena libur lebaran. Prampelan adalah sebuah desa yang hanya berjarak tidak lebih tiga kilometer dari Pabrik Gula Poerwodadie. Sehingga tidak mengherankan jika di desa tersebut banyak petaninya menanam tebu. Samingun, salah seorang petani tebu yang berasal dari desa tersebut mengatakan, jumlah petani tebu di wilayah itu terus meningkat sejak reformasi bergulir. Ini terjadi karena banyak tipe lahan yang boleh ditanami tebu oleh petani. “Jumlah petani tebu di areal PG Poerwodadie saat ini semakin banyak. Dari sisi lahan juga semakin luas. Dulu tegalan dan pekarangan tidak boleh ditanami tebu, tapi sekarang boleh,” katanya kepada SH. Reformasi adalah titik balik bagi petani tebu. Reformasi menjadi penanda kebebasan bagi petani tebu, setelah puluhan tahun mendapatkan tekanan dari rezim Orde Baru (Orba). Saat itu, tidak ada pilihan lain bagi petani selain menanam program Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI). Program TRI dicanangkan sejak 1975. Semula program itu dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri yang terus meningkat. Pemenuhan kebutuhan tebu itu sulit dilakukan karena sebagian besar petani ternyata enggan menangam tebu di lahan pertaniannya. Oleh karenanya, pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 1975 untuk memotivasi petani mengikuti program tebu rakyat intensifikasi. Inpres ini menetapkan, petani mengusahakan tanaman tebu, sedangkan pabrik gula mengolah hasil panen tebu petani. Adapun pemasaran sepenuhnya ditangani Badan Urusan Logistik (Bulog). Implementasi Inpres ini diperkuat dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian (SK Mentan) Nomor 16/1995 yang mendorong petani supaya mau bertanam tebu. Berdasarkan SK ini, Koperasi Unit Desa (KUD) ditunjuk sebagai lembaga resmi penyalur kredit produksi TRI. Namun, harapan ekonomi petani dapat meningkat lewat program ini ternyata tidak terwujud. Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) cabang Magetan, Pambudi, menggambarkan masa-masa tersebut sebagai masa kehancuran bagi petani tebu. “Petani disuruh menyediakan lahan, tetapi yang menggarap orang lain. Petani tidak punya posisi tawar,” katanya. =&0=& Angin reformasi yang berhembus pada 1998 membebaskan petani tebu. Petani boleh menanami lahannnya sendiri. Selain itu, petani diuntungkan dengan dana talangan yang dikucurkan. Yang lebih penting adalah petani diberikan bagi hasil dari harga minimal. “Sekarang harga minimalnya Rp 8.900,” katanya. Sejak tahun 2000-an, APTRI berhasil menata penjualan gula dengan harga tinggi. “Petani bisa memiliki posisi tawar, sehingga mendapat keuntunga lebih,” ujarnya. Samingun menambahkan, setelah reformasi banyak muncul varietas baru bibit tebu, antara lain, P3GI, PS864, PS 862, PS 881, PMC, PS775, PS 11, dan BL (Bulu Lawang). Hanya saja, ketiadaan fase penanaman membuat kadar gula dalam tebu (rendeman) rendah. Namun, kondisi itu saat ini telah diperbaiki dengan adanya penataan masa penanaman, yakni awal, tengah dan akhir. Bibit tebu yang cocok untuk masa awal antara lain, PS 862 dan PMC. Bibit tebu yang ditanam masa tengah adalah PS 864 dan PS 881. Adapun, pada masa akhir, bibit tebu yang cocok ditanam adalah Bulu Lawang. “Masa awal itu penanamannya bulan Mei-Juli. Masa tengah bulan juli – September dan masa akhir bulan September sampai selesai,” katanya. Adanya penataan masa tanam itu membuat rendeman yang awalnya kurang menjadi meningkat. “Dua tahun ini mengalami peningkatan. Umur tebu adalah 12 – 14 bulan. Kurang dari itu atau lebih dari itu rendemannya berkurang,” katanya. Meski telah mereguk kebebasan bercocok tanam, petani tebu masih menghadapi momok yang menakutkan. Petani tebu saat ini mengalami kesulitan pupuk bersubsidi dari pemerintah. Akibatnya, pemupukan menjadi tidak tepat waktu. “Sudah empat tahun mengalami kendala pupuk. Kalau telat memupuk pertumbuhannya terhambat, rendemannya rendah. Kami ini petani, sekarang berpikir bagaimana caranya supaya gula tidak hilang di kebun,” ia memaparkan. Untuk mengejar waktu, petani tebu harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli pupuk nonsubsidi. “Akhirnya biaya operasional penanaman menjadi lebih mahal, jadinya keuntungan kurang lagi,” katanya. Di sisi lain, gula rafinasi yang seharusnya diperuntukkan bagi industri minuman dan makanan merembes hingga ke pasar-pasar. Akibatnya, harga gula di pasaran jatuh. Peredaran gula rafinasi tersebut, kata Samingun, tidak saja menghancurkan petani tetapi juga pabrik gula. “Selama ini bagi hasil antara pabrik gula dan petani adalah 34 : 66 persen,” ujarnya.  Pambudi menegaskan, rendahnya harga gula saat ini mengakibatkan, petani-petani tebu mulai beralih bercocok tanam komoditas lainnya, seperti singkong, jagung ataupun padi. “Posisi tawar petani tebu sekarang rendah,” ujarnya.  (Jo/Sumber:Disini)

Mencecap Lagi Manisnya Gula

Belum masifnya budaya menanam tebu dan rendahnya kapasitas produksi pabrik gula membuat kejayaan industry gula Indonesia tinggal mimpi.

SURABAYA (04/08/2015) Aroma manis gula itu berpendar ke udara suatu siang akhir Juli lalu. Bahkan, bau harumnya mulai tercium ratusan meter sebelum mata bisa menangkap sebuah bangunan tua di tepi jalan raya yang menghubungkan Kabupaten Ngawi, Magetan dan Madiun itu. Bangunan tua itu tak lain adalah Pabrik Gula (PG) Poerwodadie. Pabrik yang terletak di Desa Pelem, Kecamatan Karangrejo, Magetan, pabrik itu merupakan pabrik gula peninggalan masa kolonial Hindia Belanda yang dibangun pada 1832. Saat itu bernama Nederlands Hendel Maatschapij (NHM).

read more

Tak Ada Semut di Jejak Gula

Jawa pernah tercatat sebagai pengekspor gula nomor dua dunia.

SURABAYA (04/08/2015) Daya tarik Indonesia bagi Belanda pada zaman kolonial ternyata bukan hanya rempah-rempah dari Timur. Dengan iklim panas sepanjang tahun, tanah subur dan air melimpah, tanah Jawa khususnya Batavia, pada masa itu, adalah tempat sangat bagus untuk menumbuhkan tebu-tebu untuk dijadikan gula.

Bondan Kanumoyoso, sejarawan UI, dalam disertasinya yang berjudul Beyond The City Wall, Society and Economic Development in the Ommelanden of Batavia, 1684-1740, pada awal kehadirannya di Nusantara, perhatian Kompeni terkonsentrasi pada rempah-rempah yang sangat diminati pasar. Tapi, fokus mereka segera terbagi pada gula, sebuah komoditas yang memiliki potensi komersial yang dahsyat. Gula paling dicari di pasar Eropa maupun pasar Asia. Menguasai industri gula berarti kekayaan yang melimpah. Namun, Belanda belum menguasai industri tersebut. Orang-orang Tionghoa-lah yang ahli. Sebelum Batavia dibangun oleh Jan Pieterzoen Coen, industri gula berskala kecil telah dijalani para pengusaha Tionghoa di beberapa kota pelabuhan pantai utara Jawa, seperti Banten, Cirebon, Tegal, dan Jepara. Memanfaatkan kepiawaian orang-orang Tionghoa berbisnis gula, Kompeni mengundang mereka untuk meninggalkan Banten dan hidup di Batavia, menawari mereka terjun ke pertanian. Tawaran itu datang bersama insentif menggiurkan: mereka dikecualikan dari pajak serta produksi gula dan beras mereka dijamin dibeli Kompeni. Namun, tak ada makan siang gratis. Pasar gula di Batavia dimonopoli oleh VOC sejak awal. “Pabrik-pabrik diwajibkan untuk mengirim gula putih mereka kepada Kompeni,” tulis Bondan. Namun, perluasan dan pengembangan pertanian gula tertunda selama beberapa dekade dengan pecahnya perang kambuhan antara Batavia dan Banten, tapi setelah takluknya Banten pada 1683, industri gula mulai tumbuh dengan pesat. Kompeni menerapkan pembatasan-pembatasan pada harga gula, kuota produksi, dan jumlah pabrik gula yang diberi izin untuk beroperasi. Pembatasan-pembatasan tersebut penting karena Kompeni berusaha mengatur produksi gula di wilayah-wilayah yang dikuasainya untuk mengakomodasi permintaan yang naik-turun dari pasar-pasar Asia dan Eropa. Kompeni mengklaim hak untuk membeli gula-gula kelas satu (cabessa) dan gula-gula kelas dua (bariga), tapi mereka tidak mengambil gula kelas tiga (pee) yang oleh karena itu diperdagangkan oleh pegawai Kompeni dan China secara diam-diam. Selalu mencemaskan jumlah gula yang dikirim ke gudang-gudangnya, Pemerintahan Batavia sering berdebat soal harga-harga pengiriman saat rapat-rapat kebijakan mereka. Implementasi dari kebijakan harga ini sangat sederhana: ketika produksi gula meningkat, Kompeni akan mengurangi harga pembelian, tapi harga ini akan naik lagi, ketika produksi gula turun. =&0=& Dalam periode yang sama, setelah jeda panjang, permintaan pasar Eropa untuk gula Asia meningkat lagi. Pada 1700, 43 ton gula Batavia dikirim ke Eropa. Permintaan yang tinggi terus berlanjut dan mencapai puncaknya selama 1724-1727 ketika lebih dari 2.000 ton gula Batavia diekspor setiap tahun ke Belanda. Jumlah ini terulang lagi pada 1732, ketika 2.618 ton gula Batavia dikirim ke Eropa, tapi setelah itu permintaan Belanda cenderung menurun lagi. “Produksi gula dan ekspor berhenti secara tiba-tiba pada 1740, ketika pemberontakan orang-orang Tionghoa pecah di Batavia,” tulis Bondan.

Kebijakan harga gula tetap dan monopoli ketat Kompeni pada ekspor-ekspor gula dari Batavia menyulut kebangkrutan banyak pengusaha Tionghoa. Sejumlah pabrik gula ditutup dan ribuan pekerja kehilangan pekerjaan. Orang-orang Tionghoa menjadi korban utama; bukan hanya karena pabrik-pabrik gula nyaris seluruhnya dimiliki orang-orang Tionghoa dan dikerjakan buruh-buruh Tionghoa, tapi juga karena sebagian besar komunitas Tionghoa bergantung secara langsung dan tidak langsung pada industri ini. Kondisi yang memburuk dalam produksi gula ini mendorong kerusuhan sosial yang hebat, berakibat pada pemberontakan China di dalam tembok Batavia, dan pembantaian orang-orang China di kota itu. Tak seorang Tionghoa pun tersisa dalam peristiwa itu.

read more