Produksi Core Business (Pabrik Gula)
Hingga kini, gula yang merupakan core business PTPN XI merupakan komoditas vital-strategik dalam ekonomi pangan Indonesia. Keberadaannya tidak hanya diperlukan untuk sebagai pemani berkalori yang menjadi salah satu bahan kebutuhan pokok (basic needs) masyarakat, melainkan juga bahan baku bagi industri makanan dan minuman. Pola produksinya yang melibatkan petani tebu selaku pemasok bahan baku PG, menjadikan fluktuasi areal dan produktivitasnya secara otomatis berpengaruh terghadap kinerja produksi. Lebih dari 81% bahan baku pada semua PG di lingkungan PTPN XI berasal dari tebu rakyat. Keberhasilan dalam peningkatan produktivitas tebu rakyat dengan sendirinya menjadi sangat penting.
- Sesuai dengan kesepakatan antara manajemen dan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), pada tahun 2008 berlaku ketentuan kemitraan penggilingan tebu sebagai berikut :
- Sampai dengan rendemen 6%, petani mendapatkan bagi hasil sebesar 66%. Bagian petani meningkat secara incremental dengan formula 66% ditambah 70% atas kelebihan rendemen terhadap 6%. Tujuan bagi hasil secara proporsional tersebut agar memberikan efek edukasi kepada petani dan bentuk konkretnya adalah keseriusan untuk meningkatkan kualitas budidaya sehingga baik berat tebu maupun rendemen meningkat.
- Petani mendapatkan 25 kg untuk setiap ton tebu digiling.
Di samping mengandalkan tebu yang berasal dari petani, PTPN XI juga mengelola tebu sendiri (TS) baik yang berasal dari kebun sendiri (lahan hak guna usaha pada 3 PG) maupun persewaan dari lahan petani sekitar. Selain merupakan profit centre, pengelolaan tebu sendiri juga dimaksudkan memberikan contoh kepada petani tentang praktek budidaya terbaik (best agricultural practices). Dengan demikian, TS menjadi media pembelajaran dan pertukaran informasi terkait pemanfaatan varietas baru dan agroekoteknologi sesuai kondisi ekosistem setempat.
Secara keseluruhan, pada musim giling tahun 2008, PTPN XI menghasilkan gula sebanyak 414.641,3 ton dan tetes 309.796,1 ton. Produksi tersebut diperoleh dari penggilingan tebu sebanyak 5.714.729 ton (TS 1.680.560,2 ton dan TR 4.034.168,7 ton) dari areal seluas 81.123,1 hektar (TS 23.504,0 ton dan TR 58.619,1 ton). Dengan demikian dibanding realisasi tahun 2007, areal mengalami peningkatan sebesar 1,8%, namun jumlah tebu digiling turun 10,7%, total gula turun 4,0%, dan total tetes turun 4,6%.
Produktivitas rata-rata turun 20% (dari 5,33 menjadi 5,04 ton hablur/hektar) sebagai konsekuensi menurunnya berat tebu yang lebih tajam (dari 79,2 menjadi 69,6 ton/ha) dibanding kenaikan rendemen (dari 6,73 menjadi 7,24%). Rincian tingkat produktivitas yang dicapai pada tahun 2008 adalah TS 8,37 ton hablur/ha (tebu 93,1 ton dan rendemen 8,05%) dan TR 5,76 ton hablur/ha (tebu 68,8 ton dan rendemen 6,90%).
Kinerja Produksi Gula dan Tetes
|
No |
Uraian |
Satuan |
2007 |
2008 |
% Capaian
|
|
1 |
Luas Areal |
hektar |
80.705,7 |
82.123,1 |
101,8 |
|
2 |
Tebu Digiling |
ton |
6.402.626,0 |
5.714.729,0 |
89,3 |
|
3 |
Produksi Gula Milik PG Milik Petani |
ton ton ton |
432.135,9 249.135,9 182.552,0 |
414.641,3 231.760,4 182.880,9 |
96,0 92,9 100,2 |
|
4 |
Produksi Hablur |
ton |
430.779,1 |
413.538,1 |
96,0 |
|
5 |
Produksi Tetes |
ton |
324.173,0 |
309.796,1 |
95,6 |
|
6 |
Produktivitas Tebu Rendemen Hablur |
ton/ha % ton/ha |
79,2 6,73 5,53 |
69,6 7,24 5,04 |
87,9 107,5 94,5 |
Khusus gula milik PG yang menjadi sumber pendapatan utama perusahaan, pencapaiannya sebesar 231.760,4 ton atau 7,1% lebih rendah dibanding realisasi 2007. Dari inventarisasi penyebab masalah atas tidak tercapainya produktivitas diketahui :
- PG-PG wilayah Madiun mengalami banjir pada awal tahun 2008 seluas 1.137,298 ha, yang mengakibatkan kerusakan akar tanaman dan hambatan pertumbuhan memanjang batang, serta masa giling yang berkepanjangan (s/d Januari 2008) sehingga tinggi tebu tidak tercapai.
- Pembungaan tebu meningkat akibat anomali yang, antara lain ditandai intensitas hujan ekstrim tinggi sehingga kelembaban udara yang juga tinggi memacu inisiasi pembungaan. Kondisi tersebut berakibat terhentinya pertumbuhan vegetatif yang lebih cepat dan berdampak terhadap tidak optimalnya tinggi batang.
- Masa tanam optimal tidak tercapai. Tercatat sampai dengan bulan Agustus 2008 luas areal yang sudah ditanami mencapai seluas 5.659,5 ha (59,6 %) lebih rendah dibanding tahun lalu 7.098,8 ha (68,2 %), karena petani menungggu areal eks padi mengingat tanam padi lebih menguntungkan dan plant cane berasal dari lahan tebu yang harus menunggu tebangan.
- Realisasi rendemen rata-rata sebesar 7,24 %, fase kemasakan tidak serentak dan cenderung lebih awal. Komposisi varietas masih didominasi oleh varietas masak lambat sebesar 55,7 % atau belum sejalan dengan konsep komposisi ideal dengan perbandingan antara masak awal, tengah, dan akhir sebagai 30-40-30%.
- Pemakaian pupuk pada TR yang belum berimbang, tidak tepat waktu dan menggunakan jenis pupuk sipramin yang mendorong tanaman cenderung ke arah fase vegetatif (sulit masak).
Produksi Non Core Business
Secara umum kinerja hasil usaha non core business (meliputi alkohol, spiritus, karung dan RS) pencapaiannya dibandingkan dengan realisasi 2007 disajikan pada tabel berikut :
Produksi Non Core Business
|
No |
Uraian |
Satuan |
2007 |
2009 |
% Capaian
|
|
1 |
Alkohol |
liter |
6.725.400 |
6.864.200 |
102,1 |
|
2 |
Spiritus |
liter |
1.655.750 |
1.691.900 |
102,2 |
|
3 |
Karung Plastik |
lembar |
10.039.182 |
10.141.902 |
101,0 |
|
4 |
Karung Goni |
lembar |
87.291 |
85.982 |
98,5 |
|
5 |
Tali dan Kain Goni |
kg |
130.824 |
101.157 |
77,3 |
|
6 |
White Sugar Eks Impor |
ton |
98.620 |
0 |
0 |
|
7 |
Eks Raw Sugar |
ton |
40.225 |
0 |
0 |
|
8 |
Rumah Sakit :
BOR Hari Perawatan Jumlah Tempat Tidur |
% hari unit |
64,10 78.115 324 |
60,45 79.697 334 |
94,3 102,0 103,1 |
Pencapaian kinerja produksi non-core businesss selama tahun 2008 dan perbandingannya dengan realisasi 2007 dapat diabstraksian sebagai berikut :
- Realisasi produksi alkohol dan spiritus relatif stabil walaupun mengalami kenaikan masing-masing sebesar 2,1 dan 2,2% dibanding realisasi 2007.
- Sejalan kebijakan manajemen untuk tidak memproduksi karung goni berbahan baku serat, secara bertahap produksi karung plastik berbahan baku bijih plastik ditingkatkan. Pada tahun 2008, produksi karung plastik naik 1,0%, pada saat bersamaan produksi karung goni turun 1,5% serta kain dan tali goni turun 12,7%.
- Sejalan upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi gula menuju swasembada melalui program akselerasi peningkatan produktivitas, pada tahun 2008 tidak ada lagi kegiatan impor gula kristal putih (plantation white sugar). Kalau pun produksi dalam negeri belum mampu menutup seluruh kebutuan, impor berbentuk gula kristal mentah (raw sugar) dengan harapan mengatasi idle capacity PG-PG yang nasih kekurangan tebu akibat rendanya animo petani sehingga nilai tambah diperoleh masuk ke Indonesia. Namun demikian, karena jumlah tebu tahun 2008 dinilai cukup dan pemerintah juga tidak mengeluarkan ijin, rencana PTPN XI mengimpor raw sugar sebanyak 36.400 ton tidak dapat dilakukan.
- Realisasi kinerja RS relatif stabil dibanding realisasi tahun 2007. Meskipun hari perawatan meningkat 2,0% dan jumlah tempat tidur naik 3,1%, namun BOR turun 5,7%.