SURABAYA (23/2/2010) – Para petani tebu diharapkan tidak terlena dengan membaiknya harga gula dalam setahun terakhir sehingga lupa meningkatkan tugas pokoknya untuk meningkatkan produktivitas kebun miliknya. Harga gula dunia yang tinggi bahkan dalam 30 tahun terakhir tidak akan berlangsung selamanya. Pada keadaan normal harga gula hanya USD 320-USD 350 per ton FOB (harga di negara asal, belum termasuk biaya pengapalan dan premium), sementara sekarang ini di atas USD 720. Inilah yang membuat harga gula domestik ikut terkerek naik.
Dihubungi terpisah Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) M. Arum Sabil dan Sekretaris Perusahaan PTPN XI Adig Suwandi menyebutkan bahwa biaya pokok produksi atas gula petani dewasa ini sudah tergolong mahal, yakni sekitar Rp. 6.200-Rp. 6.300 per kg. Komponen terbesar berasal dari sewa lahan dan bibit. Selain itu petani juga cenderung menambahkan pupuk, khususnya nitrogen, ke arah melibihi dosis yang direkomendasikan akibat terlalu mengejar berat tebu, belum pada rendemen. Dalam jangka panjang, peningkatan produktivitas harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan mengarah minimal 10 ton gula/ha. Kalau produktivitas tebu rakyat minimal sudah sama dengan PG-PG swasta di Lampung, biaya pokok produksi akan jauh lebih kompetitif. Karena itu introduksi teknologi harus terus didorong agar produktivitas dimaksud tercapai.