SURABAYA (2/2/2010) – Sisa waktu hingga masa giling tiba diharapkan dapat dimanfaatkan untuk perbaikan kondisi tanaman yang masih memungkinkan. Pekerjaan tersebut antara lain drainase (got), pupuk ekstra, prakondisi tebangan, dan pengaturan front tebangan untuk menunjang keberhasilan teknologi pascapanen. Sementara untuk pabrik, persiapan peralatan secara prima dan lebih baik akan sangat menunjang pencapaian efiensi.
Demikian antara lain terungkap dalam rapat bersama para Administratur PG di lingkugan PTPN XI, Senin (1/2/2010) di Surabaya. Dalam rapat yang dipandu Direktur Utama Irwan Basri tersebut, juga dihadiri 2 orang Komisaris (Karyono dan Ahmad Dimyati), Direktur Tanaman Slamet Poerwadi, Direktur Teknik & Pengolahan, dan Direktur Perencanaan & Pengembangan Soejitno.
Administratur PG Pagottan Suhardi pada kesempatan tersebut antara lain menyampaikan makin ketatnya kompetisi dalam mendapatkan tebu rakyat mandiri. Sejumlah perusahaan gula memberikan perlakuan yang cenderung mengarah kompetisi sangat bebas, sehingga banyak tebu dalam wilayah potensial berpindah ke tempat lain. Pendapat senada dikemukakan AdmiistraturPG Dajtiroto Ahmad Hatta bahwa saat ini telah ada upaya pembelian tebu rakyat mandiri di Kabupaten Lumajang untuk tebangan 2010 dengan harga Rp. 47.000 per kuintal. Menghadapi kompetisi tersebut, para Administratur diminta menerapka strategi khusus yang berbeda dengan cara-cara di masa lalu.