SURABAYA (17/2/2012) - Rencana pemerintah mengimpor 240.000 ton gula kristal mentah( raw sugar) dari pasar global untuk diolah pada pabrik gula (PG) disambut positif kalangan produsen. Hal itu dinilai bisa mengoptimalkan kapasitas PG sekaligus memperkuat stok nasional. Pelaksanaan pengolahannya dapat dilakukan bersamaan dengan tebu namun tetap dalam jaminan yang tidak mengganggu penggilingan tebu petani. Sangat bagus bagi PG mengingat pada empat periode awal giling (2 bulan) umumnya sulit diperoleh tebu masak. Kondisi tersebut sejalan belumnya idealnya komposisi varietas tebu pada sebagian PG.
Ketua Kompartemen Manajemen Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI) yang juga Kepala Bidang Pemasaran PT Perkebunan Nusantara XI (Persero) Adig Suwandi, Jumat (17/2/2012) di Surabaya menyatakan, dalam pelaksanaan impor raw sugar dipersyaratkan adanya koordinasi dengan pemerintah provinsi setempat, seperti Jatim yang sangat berhati-hati dalam menerima kedatangan produk impor. Tanpa koordinasi dengan pemprov, akan sangat sulit raw sugar dibongkar di pelabuhan, sehingga bila terjadi beda pendapat potensial menimbulkan persoalan baru. Kondisi tersebut harus dimengerti mengingat Jatim merupakan kawasan penghasil gula dengan kontribusi 1,2 juta-1,4 juta ton, sedangkan kebutuhan sekitar 480.000-550.000 ton. Harus ada penjelasan rasional dan dapat diterima bahwa hasil pengolahan raw sugar dan surplus gula Jatim untuk kepentingan nasional yang lebih luas.
Terkait dengan olah raw sugar kalau memang diserahkan PG berbasis tebu tersebut, pemerintah juga harus menjamin bahwa gula rafinasi berbahan baku raw sugar tidak akan masuk pasar eceran. Kalau dibiarkan masuk, akan terjadi persaingan tidak sehat apalagi dalam mengimpor industri gula rafinasi mendapatkan fasilitas keringanan dan pembebasan bea masuk. Iklim persaingan yang tidak fair harus diakhiri sehingga kebijakan pemisahan gula rafinasi (hanya untuk industri makanan dan minuman) dan gula lokal berbahan baku tebu hanya untuk konsumsi menjadi sangat urgen.