Rendemen Tebu Di Jawa Merosot Tajam

SURABAYA (30/06/2015) Tingkat rendemen tebu di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur merosot tajam sehingga produktivitas gula rakyat turut menurun yang menyebabkan petani merugi.

Soemitro Samadikoen, Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), mengatakan saat ini rata-rata rendemen tebu di wilayah Jawa hanya berkisar 5%, merosot tajam jika dibandingkan dengan kondisi pada periode 10 tahun lalu ketika rendemen masih dapat mencapai angka 7%.

Sekarang rata-rata rendemen tebu di Jawa hanya sekitar 5%, sehingga tingkat produktivitas sangat menurun,” ujarnya kepada Bisnis.com, Senin (29/6/2015).

read more

Petani Minta Pemerintah Batasi Impor Gula Rafinasi

SURABAYA (29/06/2015) Petani berharap pemerintah membatasi kuota impor gula rafinasi agar tidak merembes ke tingkat konsumen sehingga berpotensi merusak harga gula rakyat yang pada tahun ini mulai menunjukkan peningkatan.

Soemitro Samadikoen, Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), mengatakan saat ini rata-rata harga lelang pertama gula di wilayah Jawa Tengah mencapai sekitar Rp10.000-11.100 per kg. Harga tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata harga gula tertinggi pada tahun lalu yang hanya mencapai Rp8.650 per kg.

read more

Asosiasi Makanan dan Minuman Minta Kebocoran Gula Ditindak

SURABAYA (30/06/2015) Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) meminta pemerintah menindak kebocoran gula rafinasi yang seharusnya digunakan industri tetapi menjadi gula konsumsi.

Kalau ada kebocoran, tentu pemerintah harus tegas, siapa yang membocorkan itu harus ditindak. Jangan sampai merugikan produsen yang bener,” kata Ketua Umum Gapmmi Adhi Lukman di Jakarta, Senin.

Adhi mengatakan, kebocoran tersebut berpotensi melemahkan daya saing industri makanan dan minuman dalam negeri, sehingga dibutuhkan ketegasan.

read more

(29/06) Harga Gula JATIM, Tren Menurun

grafik gula jawa timur 2906

SURABAYA (29/06/2015) Secara rerata harga gula kristal putih (GKP) di Jawa Timur mengalami kenaikan sejak awal bulan Juni ini, puncaknya jelang akhir pekan lalu Jumat (26/06) harga mulai menurun perlahan-lahan. Meskipun demikian, harga terpantau masih berada diatas Rp11.000,- per kilogram di masing-masing pasar di waliayah Jawa Timur.

Sedangkan ketersediaan GKP terpantau masih mencukupi, tercatat dari data Disperindag Jawa Timur besar konsumsi masyarakat diperkiranakan 50 ribu ton dalam satu tahun dan stok hasil produksi sebesar 196 ribu ton sehingga masih terdapat surplus sebesar 146 ribu ton. Hal ini akan ditambah dengan hasil produksi tahun 2015 yang saat ini pabrik gula di Jawa Timur sudah melakukan giling tebu sehingga stok gula 2015 Jawa Timur masih aman.

read more

Menperin: Pabrik Gula Rafinasi Harus Punya Kebun Sendiri

SURABAYA (30/06/2015) Menteri Perindustrian Saleh Husin mendorong pabrikan gula rafinasi untuk memiliki kebun tebu sendiri. Ini agar rembesan bahan baku gula jenis tersebut bisa diredam.

Saleh Husin, ketika berkunjung di pabrik gula rafinasi milik Sugar Labinta di Lampung kemarin, mengatakan pemerintah akan mengawasi secara ketat soal imbauan itu. “Satu-satunya cara mengurangi impor raw sugar ya dengan memiliki kebun tebu sendiri,” Saleh Husin dalam siaran pers yang diterma VIVA.co.id, Minggu 28 Juni 2015. Pemantauan ketat itu sekaligus menjamin pemisahan pasar gula kristal putih untuk konsumsi langsung masyarakat dan gula kristal rafinasi untuk memenuhi kebutuhan industri. Koordinasi dengan kementerian terkait juga akan dilakukan. “Kementerian Perindustrian menelisik produksi gula rafinasi melalui verifikasi kontrak. Sedangkan audit distribusi yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan,” tambahnya. Gula rafinasi merupakan salah satu bahan penolong industri makanan minuman bersama bahan baku utama lainnya. “Maka, keberadaan  industri gula kristal rafinasi di dalam negeri sangat diperlukan untuk mendukung pertumbuhan industri makanan dan minuman yang terus berkembang,” ungkapnya. Pada tahun 2014, industri makanan dan minuman memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar Rp560,62 tiliun (berdasarkan harga berlaku) atau memberikan kontribusi sebesar 29,95 persen terhadap PDB industri pengolahan non-migas. Pada tahun yang sama, ekspor industri makanan dan minuman sebesar US$5,55 Milyar atau menyumbang 4,7 persen dari ekspor hasil industri. (Jo/Sumber:Disini)