Impor Gula Mentah Bertepatan Masa Giling, Petani Tebu Terancam

SURABAYA (26/03/2015) Petani tebu menilai besarnya kuota impor gula mentah (raw sugar) triwulan II sebesar 945.643 ton dapat mengancam harga gula rakyat karena masuknya gula itu bertepatan dengan masa giling tebu.   Raw sugar nantinya akan diolah menjadi gula rafinasi untuk keperluan industri makanan dan minuman. Pemerintah telah memberikan kuota impor raw sugar triwulan II sebesar 945.643 ton atau lebih besar dari kuota triwulan sebelumnya 672.000 ton.   Alasannya, periode tersebut bertepatan dengan bulan Puasa sehingga kebutuhan gula untuk indutsri makanan dan minuman diperkirakan lebih banyak 273.643 ton dari periode sebelumnya.   Wakil Sekjen Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia Nur Khabsyin mengatakan kekhawatiran rembesnya gula rafinasi bertepatan saat musim giling dapat menekan harga gula rakyat hingga dibawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

read more

(25/03) Masih Turun Tipis, Harga Gula Dunia USD 364,50

GRAFIK HARGA. Masih meneruskan tren menurun, harga gula dunia USD 364,50

GRAFIK HARGA. Masih meneruskan tren menurun, harga gula dunia USD 364,50

SURABAYA (26/03/2015) Penurunan harga gula kristal putih (white sugar plantation) dunia masih meneruskan trend melemah pada transaksi di bursa berjangka London LIFFE kontrak nomor 5 Rabu (25/03) kemarin. Meski tipis harga turun sebesar USD 0,30 sehingga harga menjadi USD 364,50 untuk pengapalan bulan Mei 2015. Untuk bulan Agustus 2015 harga menjadi USD 360,10 (naik USD 1,10), bulan Oktober 2015 menjadi USD 361,40 (naik USD 0,90), bulan Desember 2015 menjadi USD 368,80 (naik USD 0,90) dan untuk pengapalan bulan Maret 2016 harga naik sebesar USD 0,80 menjadi USD 376,10.

read more

Gaperindo Minta Pemerintah Stop Impor Gula

SURABAYA (25/03/2015) Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia atau Gaperindo Jawa Barat mengeluhkan perizinan impor gula dari pemerintah yang dinilai sangat merugikan para petani.

Pasalnya, produktivitas tebu Jabar saat ini dapat dikatakan baik, tapi harga jual terus merugi.

Ketua Gaperindo Jabar Mulyadi Sukandar mengatakan kerugian petani tebu karena gula impor sudah membanjiri pasar dalam negeri.

Hal tersebut jelas mengganggu pasokan dan permintaan,” ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (24/3/2015).

read more

Izin Impor Bakal Dicabut Jika Gula Rafinasi Dijual ke Distributor

SURABAYA (25/03/2015) Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan mencabut izin impor jika industri gula rafinasi menjual gula mereka ke distributor. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya perembesan gula ke pasaran, karena jika hal itu terjadi, maka dikhawatirkan akan mematikan gula produksi dalam negeri.

Hal itu dikatakan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag (Daglu), Partogi Pangaribuan, saat media briefing di kantornya. Ia mengakui, ketika pemerintah mengeluarkan izin impor, industri gula rafinasi selalu menjual ke distributor, bahkan rembesan gula tersebut sampai di pasaran.

read more

Pengawasan Distribusi Gula Rafinasi Harus Diperketat

SURABAYA (25/03/2015) Yadi Yusriadi, Senior Advisor Asosiasi Gula Indonesia (AGI) mengatakan langkah pemerintah untuk melakukan importasi gula mentah tidak salah.

Namun, dia menegaskan bahwa pemerintah harus memastikan gula rafinasi harus benar-benar digunakan untuk industri makanan dan minuman.

“Pemerintah mau keluarkan izin impor ya boleh saja, asalkan tidak merembes ke pasar konsumen. Kalau sampai masuk ke pasar, GKR produksi petani tak laku. Ini yang sering terjadi,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (24/3/2014). Bukan itu saja, dia juga mendesak pemerintah untuk mengecek dokumen yang dimiliki oleh importir dan kontrak kerja pelaku usaha. Pasalnya, lanjut Yadi, sering kali kouta barang yang masuk ke Indonesia berbeda dengan jumlah yang dikeluarkan oleh negara importir. “Instrumen pengawasan dan sanksi yang akan dikenakan bagi pelanggar aturan sudah ada. Sekarang kita lihat bagaimana pemerintah menjalankan law enforcement secara maksimal,” tandasnya. Wakil Ketua Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Andre Vincent Wenas menilai izin impor gula mentah yang dikeluarkan pemerintah pada triwulan II 2015 sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman. “Permintaan produk makanan dan minuman di pasar tradisional naik 20%-30% selama Puasa dan Lebaran. Kami harap impor gula mentah bisa tersalurkan ke pelaku industri,” katanya. Dia menuturkan pemerintah harus menerbitkan izin impor jauh-jauh hari lantaran proses importasi gula mentah memakan waktu. Terlambatnya distribusi bahan baku bisa membuat proses produksi molor. Hasilnya, terjadi kelangkaan barang dan kenaikan harga di tingkat konsumen. Namun demikian, AGRI mengaku strategi pengeluaran kuota impor gula harus sejalan dengan rencana swasembada pangan yang diusung oleh pemerintah Joko Widodo. “Kami tentu tak ingin terus mengimpor. Karena itu, pemerintah harus memikirkan strategi tepat untuk mengembangkan kuantitas dan kualitas gula nasional,” imbuhnya. Sebelumnya, Kementerian Perdagangan menerbitkan izin impor gula mentah (raw sugar) untuk kebutuhan industri makanan dan minuman sebesar 945.643 ton untuk triwulan II terhitung April-Juni 2015. Jumlah kuota impor tersebut berkisar 60% dari total rekomendasi impor gula mentah yang disampaikan oleh Kementerian Perindustrian sebesar 1,576 juta ton.(Jo/Sumber:Disini)